Meneladani Sang Pendiri

Nama pondok Banyuputih Kidul atau yang lebih dikenal dengan nama pondok nyupote dalam bahasa Madura sudah tidak asing lagi bagi warga Lumajang, khususnya dan umumnya warga Jawa Timur bahkan Indonesia. Pondok nyupote secara legal formal didirikan pada tahun 1957 M dengan bukti pendirian berupa Piagam yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan nomor statistik 042350810018.

Pondok nyupote tidak bisa dilepaskan dari sosok Kiai Zuhri bin Sirojuddin, karena disamping beliau adalah putra Kiai Siroj, juga pada masa kepemimpinan beliau pondok nyupote mengalami perkembangan yang sangat pesat. Masyarakat dari berbagai lapisan daerah Jawa Timur khususnya lumajang, jember, sampang dan pamekasan Madura berduyun-duyun datang menitipkan putra/i-nya untuk nyantri di pondok nyupote. Menurut cerita karena banyaknya kuantitas masyarakat yang ingin menitipkan putra/I-nya, Kiai Zuhri mengikhlaskan sebagian tanahnya untuk dijadikan tempat hunian para santri.

Meskipun para santri diberikan kebebasan untuk membangun asrama sendiri secara sukarela, namun Kiai Zuhri tetap mengedepankan sikap kesederhanaan untuk membangun asrama santrinya, yakni berupa gubuk dari bambu. Konon dikisahkan, beberapa santri membangun asrama dengan dinding tembok layaknya bangunan asrama seperti era sekarang, namun saat Kiai Zuhri mengetahui beliau langsung memerintahkan para santri untuk membongkarnya dan diperintahkan untuk membangun sesuai kebiasaan yang ada.

Sikap yang ditunjukkan oleh Kiai Zuhri seperti diatas, merupakan teladan kepada para santri agar selalu menjaga dan mengamalkan sikap sederhana serta berhati-hati dengan kemewahan dunia. Kiai Zuhri ingin menanamkan karakter pendidikan tidak mencitai dunia, bersikap waspada pada kemewahan kepada seluruh santri yang beliau didik.

Kiai Zuhri sendiri adalah putra tertua dari 4 (empat) bersaudara. Beliau lahir dari pasangan Kiai Sirojuddin bin Nahsruddin bin Istbat dengan Nyai Muthmainnah. Kiai Siroj sendiri adalah cucu Kiai Istbat, seorang ulama terkemuka yang melahirkan para ulama pesantren besar yang tersebar di Madura, Malang, Probolinggo, Lumajang, Jember dan daerah-daerah lainnya.

Kemudian, Kiai Zuhri wafat pada tahun 1982 dan di makamkan di pemakaman keluarga besar Pondok Pesantren Banyuputih Kidul. Komplek pemakaman Kiai Zuhri tidak jauh terlalu jauh dari lokasi pondok dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Biasanya setiap hari jum’at dan selasa para santri diberikan waktu untuk berziarah, tabarrukan di makam para sesepuh Pondok Pesantren Banyuputih.

Wafatnya Kiai Zuhri, bukan berarti wafat secara ruhani sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran;169 “Janganlah kamu  mengira orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Teladan-teladan agung yang beliau contohkan langgeng dan terus hidup ditengah-tengah santri Pondok yang kian menyesaki asrama-asrama di Pondok nyupote. Kian hari, bulan dan tahun santri yang akan menghidupkan teladan-teladan Al-Magfurlah Kiai Zuhri datang dari berbagai pelosok negeri dengan jumlah yang tidak terbendung. Bahkan sejak tahun 2015 – hingga sekarang diperkirakan satu kelas saja sudah mencapai jumlah santri 60 santri.

Salah satu keteladan yang melekat pada sosok al-magfurlah Kiai Zuhri, sejak nyatri di Pondok Sidogiri Pasuruan, beliau lebih dikenal dengan santri yang selalu menjaga sikap dan perilaku konsisten (istiqomah). Banyak hikayat dari para alumni sepuh pondok nyupote yang menggambarkan bahwa Kiai Zuhri merupakan sosok Kiai yang senantiasa menjaga dan menghiasi kepribadian beliau dengan sikap istiqomah. Bahkan perilaku istiqomah yang beliau jalankan hingga pada perkara yang dianggap oleh kebanyakan masyarakat umum sebagai hal yang kecil/sepele –meminjam bahasa Ketua Umum YMU, H. Maksum Madyari.

Sikap istiqomah dalam kajian tasawuf merupakan sifat yang harus ditanamkan sejak dini oleh para salik –orang berjalan dijalan Allah. Djamaluddin Ahmad Al-Buny dalam bukunya Hikmah-Hikmah Shufiyah menempatkan sikap istiqomah sebagai pondasi dari semua tingkatan jalan tasawuf. Bila seorang salik gagal menjadikan sikap istiqomah sebagai pondasi pada dirinya, maka sudah bisa dipastikan akan mengalami kegagalan dalam menjalani maqom/tingkatan yang lain. Manfaat Istiqomah bagi yang mengamalkan banyak diceritakan oleh hadist-hadist Nabi. Misalnya amal yang dikerjakan secara Istiqomah walaupun nilainya sedikit lebih dicintai oleh Allah SWT., (HR. Baihaqi). Selain itu, pribadi yang menancapkan sikap istiqomah dalam dirinya akan terhindar dari sikap khawatir, mudah goyah dan kuat prinsipnya.

Gambaran tersebutlah yang tercermin pada sosok pribadi al-magfurlah Kiai Zuhri dalam mengelola dan mengembangkan pondok nyupote. Ketika penguasa orde baru menempatkan pondok sebagai kekuatan yang dapat mengancam kelanggengan kekuasaannya dan pondok di posisikan sebagai lawan politik, Kiai Zuhri lebih memilih mengembangkan pondok dengan pilihan memandirikan secara ekonomi. Kiai Zuhri menjaga jarak antara dirinya, pondok dengan politik praktis. Politik praktis dalam pandangan beliau lebih banyak mendatangkan mudorrot pada pondok dari pada manfaatnya. Tidak mengherankan bila beliau lebih memilih mandiri secara ekonomi dalam mengembangkan pendidikan pondok nyupote. Cerita tutur dari Kiai Husni, putra Kiai Zuhri saat menggambarkan bahwa Kiai Zuhri sangat berhati-hati dalam menyikapi kondisi social politik yang berkembang. Hal itu dikhawatirkan bisa berdampak negative terhadap citra lembaga dan pendidikan pondok nyupote. Dalam kisah Kiai Husni menirukan dawuhnya Kiai Zuhri, politik mon tak nyakar yeh ekacar (politik kalau tidak mencakar ya sebaliknya pasti dicakar).

Selain itu, Kiai Zuhri juga dikenal dengan sosok yang sangat peduli terhadap kemandirian ekonomi santri terutama yang sudah alumni, dermawan dalam meminjamkan modal usaha untuk para alumni. Banyak yang mengisahkan bahwa beliau tidak tanggung-tanggung memberikan support modal usaha para santrinya. Kiai Muhsin Baist menceritakan ada salah satu alumni di Surabaya ketika mengingat al-magfurlah Kiai Zuhri beliau langsung meneteskan air mata haru karena pernah diberikan modal Cuma-Cuma oleh Kiai Zuhri saat usaha-nya sedang bangkrut.

Selain teladan-teladan diatas, masih banyak lagi kisah hikmah dari kepribadian al-magfurlah Kiai Zuhri, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Lumajang. Kita, sebagai santri semoga senantiasa bisa meniru keteladanan beliau dalam mengarungi kehidupan yang kian tidak menentu. Semoga…!

 

Oleh : Mochammad Hisan (Alumni PP MiftahulUlum Banyuputih Kidul Tahun 2003)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.